Buscar

Loading...

Páginas

Make a history in your life, not just a story - DPM

Mengapa S1 Fisioterapi?

"Fisioterapi? Oh, tukang pijet itu ya? Kalo cuma gitu aja ngapain sekolah jauh-jauh?"

Biasanya banyak orang yang berpikir seperti itu. Jangan-jangan kalian juga ya? Hahaha. Tenang aja, disini diana gak akan menyalahkan kok. Soalnya kalo menurut diana sendiri, fisioterapi juga mempelajari pengembalian fungsi gerak melalui manual therapy salah satu dengan memijat. Jadi, itu gak salah :3


Tapi readers, perlu kalian tau kalo fisioterapi bukan cuma sekedar tukang pijat. Kami calon fisioterapis ini adalah calon 'tukang pijat' profesional lho. Kenapa? Karena kami sekolah, kami belajar, dan kami berilmu. Jadi, apapun yang akan kami lakukan untuk kalian, tentu semuanya berlandaskan ilmu yang telah kami dapat dan kami pelajari serta dapat kami pertanggung jawabkan. Beda lah dengan tukang pijet yang lain hihihi :3

Terus? Kenapa diana tertarik buat milih fisioterapi?
Nyasar cin, serius hahaha. Pasti seperti kebanyakan temen-temen diana yang lainnya ya, pilihan pertama pasti kedokteran umum trus fisioterapi pilihan yang entah ke berapa. Samaan lah sama diana. Di UMB-PTN kemaren Fisioterapi urutan nomer 5 wkwkwkwk. Kalo diana dibolehin sama mamak sih diana udah daftar ulang LSPR di Jakarta atau ilkom nya IPB. Sayang mamak tak mengijinkan hamba di ilkom, jadi terpaksa harus melepaskan kedua kampus kece itu hiks. Trus kenapa diana ambil fisioterapi ya karena fisioterapi masih berhubungan sama tulang. Alesan diana sih dulu gitu hahaha. Kalian kalo masih inget pasti tau lah cita-citnya diana dulu jadi tukang nyambung tulang atau dokter bedah tulang hahaha. Jadi itu ya alesan kenapa diana lebih milih fisioterapi wahai teman-teman. Sekalian aja diana jelasin di sini, banyak yang menyayangkan diana melepaskan Ilmu Gizi Undip. Karena diana gak suka kimiaaaa tolooongggg. Dan karena menurut diana fisioterapi ilmunya sama kayak kedokteran umum, makanya diana memilih ini. Apalagi di Udayana ini udah S1 lho bukan D3 lagi. Paham saudara-saudara? :)

Ternyata memang bener lho. Setelah diana menjalani beberapa bulan sekolah di fisioterapi, diana udah hampir gila sama mata kuliahnya. Diana dapet mata kuliah anatomi, biokimia, biologi kedokteran, ilmu kesehatan, patologi, patosiologi, fisiologi dll yang materinya sama persis sama kedokteran. Bukunya sama, dosennya sama, yang diajari juga sama. Lama kuliahnya juga sama. Kalo masuk S1 Fisioterapi nanti bakal kuliah 4 tahun buat dapet gelar sarjana trus habis itu dapat co-as sama juga kayak kedokteran umum waktunya 1,5 sampai 2 tahun. Jadi, S1 fisioterapi itu bisa dibilang udah sejajar sama dokter lah ya, cuma kami berjalan di jalan yang berbeda hahaha. Kalo dokter kan lebih ke mengobati, nah kalo fisioterapi ini lebih ke mengembalikan fungsi gerak. Jadi semisal kalo ada pasien yang habis operasi tulang, kan otomatis tulangnya harus dilatih biar bisa kembali normal fungsinya, nah itu tugasnya fisioterapi.

Fisioterapi itu gak melulu soal tulang sama otot lho. Fisioterapi juga mencakup saraf contohnya kayak orang kena stroke, selain minum obat dari dokter, pasien dengan penyakit stroke perlu dilatih sarafnya sama fisioterapi. Ada lagi kayak yang mengalami kelemahan penglihatan, gangguan keseimbangan, apapun yang berhubungan dengan saraf pasti ada hubungannya sama fisioterapi. Kemudian fisioterapi juga menangani kardiovaskuler, biasanya bagi pasien yang habis dioperasi jantung atau paru-parunya, disini tugas fisioterapi adalah mengoptimalkan kerja jantung dan paru-paru supaya kedua organ itu dapat berfungsi dengan baik. Ada lagi mengenai pediatri (anak-anak)  yang memfokuskan pada diagnosis, perawatan, penanganan bayi, anak dan remaja yang mengalami penyakit bawaan, perkembangan, syaraf dan otot, tulang atau pola gangguan atau penyakit. Seperti anak-anak dengan masalah keterlambatan tumbuh kembang. Fisioterapi juga menangani geriatri yang lebih memfokuskan pada orang lanjut usia. Fisioterapi geriatri membantu menangani masalah seperti arthritis, osteoporosis, kanker, penyakit alzheimer's dan beberapa penyakit yang terkait dengan bertambahnya umur manusia. Fisioterapi geriatri biasanya bakalan ngasih program-program khusus untuk membantu mengembalikan gerakan, mengurangi nyeri, meningkatkan tingkat kesehatan dan kebugaran, dan masih banyak lagi. 

Lalu bedanya sama dokter apa dong? Nah, kalo dokter kan juga mempelajari mengenai obat-obatan yang bukunya tebel kayak bantal tuh, kalo fisioterapi gak perlu. Sebagai gantinya belajar obat-obatan, fisioterapi bakalan mempelajari mengenai pengembangan, pemeliharaan, dan memaksimalkan fungsi gerak. Fisioterapi juga punya fungsi untuk memaksimalkan kualitas hidup lho. Iya lah, secara kalo kalian jadi fisioterapi kalian tentunya akan mengetahui bagaimana caranya menjaga agar tubuh tetapi sehat dan organ-organ di dalam tubuh kita bekerja dengan baik plus normal. Gimana nggak sehat coba? Kan ada tuh yang bilang kalo sehat adalah kunci dari kehidupan. Sekarang bayangin aja kalo kalian sakit pasti kalian gak bisa mikir, gak bisa ngapa-ngapain, kerjaan jadi numpuk, bolos sekolah. Iya kan? Coba kalo kalian sehat, hidup dan waktu kalian pasti bisa lebih berharga. 


Ini salah satu temen diana namanya Bella, katanya lagi sakit lehernya terus di fisioterapis udah sembuh. Maaf ya Bel, diana nyolong fotonya :3

Terus kenapa harus S1? D3 atau D4 kan banyak. Hihihi

Karena S1 asyik ada co-as nya kayak dokter wkwkwk. Nggak sih bukan itu maksudnya. Sebenarnya apapun entah S1 atau D3 atau D4 boleh-boleh aja. Cuma bedanya biasanya di jenjang D3 dan D4 gak mempelajari sedalam S1. Kalo di S1 kita bener-bener di kasih materi yang sama persis kayak kedokteran. Jadi, fisioterapi lulusan S1 boleh mendiagnosis penyakit seseorang tetapi kita tidak boleh memberikan obat-obatan karena kita tidak dapet pelajaran itu. Kok berani banget ya kita diagnosis orang? Kan bukan dokter. Memang kita bukan dokter, tapi posisi kita sejajar dengan dokter. Fisioterapi S1 bisa menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang dia alami kemudian bagaimana penyakit itu bisa terjadi, dan apa yang harus dilakukan. Apakah pasien tersebut harus dibawa ke dokter dulu atau bisa sembuh hanya dengan datang ke fisioterapis. Nah, kalo D3 nih, biasanya cuma sekedar tau "oh ini penyakit gini" tapi mereka belum tentu bisa menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi, asal muasal nya dari mana, karena ilmu mereka gak sedalam S1. Kemudian dalam praktik kerjanya, D3 gak bisa nyari pasien sendiri dan gak bisa bergerak tanpa komando dokter atau fisioterapis lulusan S1. Fisioterapis lulusan D3 kalo mau dapet pasien biasanya dapet rujukan dari dokter. Di surat rujukan dari dokter itu biasanya udah di tulis contohnya kayak "pasien ini membutuhkan perawatan menggunakan SWD (ini alat fisioterapi) dengan begini begini begitu". Jadi istilahnya kayak masih dituntun gitu lho dan gak boleh memutuskan sendiri pasien ini harus begini begini, fisioterapis lulusan D3 belum berhak untuk itu. TAPI... Kalo fisioterapis lulusan S1 sah-sah aja. Bahkan mereka bisa mencari pasien tanpa harus dapat rujukan dari dokter. Ya karena itu tadi, ilmunya udah setara sama dokter. Jadi sebenernya fisioterapis S1 itu sama aja otak dokter, cuma kita gak mengobati. BEBAS DEH DARI KIMIA HAHAHAHAHA................ Ketahuilah belajar obat-obatan itu pusing nak *bisikan setan*


Kuliah vital sign nih, yang ngajar bu dokter loh

Kenapa diana milih di udayana?

Karena nyusul pacar wkwkwkwk. Enggak ding enggak. Karena di Indonesia, Universitas Negeri yang fisioterapi nya udah S1 cuma ADA DUAAA !!! Di udayana ini sama di Hasanudin. Lainnya swasta semua, contohnya kayak Esa Unggul, UMS, UMM, ada lagi gak yang belum disebut? Dan setau diana fisioterapi S1 yang udah plus profesi (co-as nih maksudnya) adanya baru di udayana sama di esa unggul. Lha terus kalo yang univ lainnya? Ya habis lulus S1, gak bisa profesi. Alias mandek di gelar sarjana, tapi mereka gak boleh buka praktek karena belum melakukan profesi. Kalo mereka mau ambil profesi, mereka harus mendaftar lagi untuk profesi di kampus yang sudah memiliki profesi seperti udayana contohnya hihihi *promosi*. Kecuali ya kalo mereka memilih menjadi pendidik kayak dosen gitu, habis dapet gelar sarjana, boleh kok gak ambil profesi tapi langsung kuliah S2 gitu juga gapapa, gak masalah.


Nah ini video dari VSFT FK Unud yang bergerak di bidang sport. Isinya anak-anak fisioterapi semua :3

Diana sendiri mulai asyik dan tertarik sama dunia fisioterapi dan mulai membuang jauh-jauh cita-cita jadi dokter bedah tulang. Kenapa? Karena di fisioterapi pelajaran udah sama-sama pusing kayak dokter, belajarnya juga sama mayat kok, sama kan kayak dokter. Trus buat kerjanya besok, diana mikirnya kan kalo dokter 24 jam, kalo fisioterapis kan gak harus 24 jam, terserah kita mau sampe jam berapa hihihi. Terus lagi, di Indonesia ini dokter udah banyak, dokter umum berceceran di mana-mana. Bahkan sekarang dokter umum kayak udah gak laku gitu, jadi dokter-dokter itu kalo mau laku biasanya harus sekolah spesialis dulu. Dan untuk sekolah spesialis itu prosesnya panjang, lama, dan gak mudah. Nah, kalo fisioterapi, untuk yang di Indonesia sih diana pikir S1 udah cukup kali hihihi. Keliatan banget gak mau S2 ya gua hahaha -_- Dari segi pekerjaan juga banyak contohnya nih



  1. Bisa jadi pembicara: Di fisioterapi itu kita juga mencakup promotif atau promosi. Tau sendiri fisioterapi di Indonesia itu masih jarang banget, bahkan bisa dihitung pake jari. Terus juga banyak masyarakat yang belum begitu tau mengenai apa sebenernya fisioterapis makanya muncul istilah fisioterapis adalah tukang pijet. Itu dikarenakan masyarakat masih awam banget sama fisioterapi. Nah, sebagai fisioterapis, kalian bisa juga jadi pembicara. Ya, boleh kalian memperkenalkan fisioterapi kepada masyarakat, trus juga jadi pembicara di acara kayak sosialisasi kesehatan. Intinya kalo jadi pembicara, kalian memperkenalkan kepada masyarakat mengenai dunia kesehatan supaya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan jauh lebih meningkat. Mulia banget kan? :))
  2. Bisa jadi pengajar: Halo halooo, kalo kalian mau tau, Indonesia kekurangan dosen untuk pengajar fisioterapi lho. Di udayana aja dosen-dosennya kebanyakan diambil dari kedokteran umum. Makanya, peluang untuk jadi dosen di dunia fisioterapis itu sangaaattttt luaaasssss..... Walaupun kalian di fisioterapi, gak harus kok kalian jadi dosen spesial untuk fisioterapi. Kalian juga bisa jadi dosen anatomi yang otomatis bisa ngajar di kedokteran umum juga. Tapi untuk fisioterapi sendiri memang masih sedikit banget lulusan S2 atau S3 fisioterapi untuk jadi dosen. Jadi, yang hobi banget ngajar nih, disini peluangnya besar banget!
  3. Bisa buka praktek: Biasanya, rumah sakit itu membutuhkan fisioterapis. Nah, kalo ngerasa gaji dari rumah sakit belum cukup nih wkwkwk sombong banget, kalian bisa buka praktek sendiri di rumah. Jam nya bebaassss.. Kayak dokter gitu lah.
  4. Fisioterapis olahraga: Yang pengen ngecengin pemain-pemain bola, bisa nih jadi fisioterapis olahraga. Tau gak, kalo kalian nonton bola, terus ada yang cidera, kan pasti ada tenaga kesehatan tuh, itu fisioterapis lho. Dengan fisioterapis, pemain bola yang cidera itu kakinya bisa sembuh terus bisa main lagi.
  5. Bisa jadi peneliti: Jangan salaaahhhh. Peneliti bukan hanya dari kedokteran umum atau biologi murni aja ya. Dari fisioterapi juga bisa jadi peneliti.
  6. Bisa jadi wiraswasta: Ini nih, idola gua banget hihihi. Dari ilmu fisioterapis yang kalian dapet kalian bisa buka bisnis sendiri. Contoh aja spa, tapi yang pasti bukan spa sembarang spa, tapi spa kesehatan, atau bisa juga bikin health center. Kalian bisa buka juga yoga atau gym, banyak banget pokoknya!!!
Nah, itu sih yang lagi sliweran di kepala diana. Harusnya ada lagi. Banyak kok pokoknya hihihi. Tinggal pintar-pintarnya kita mengolah dan memanfaatkan ilmu yang kita dapat aja. Oiya ada yang lupa, pasti ada yang tanya urusan gaji ya? Hehehehe. Kan kalo dokter umum sekarang ada BPJS huhuhu kasian. Kalo fisioterapis sendiri khususnya di Bali biasanya kaya-kaya lho. Ada yang bawa anaknya ke fisioterapis karena anaknya tumbuh kembangnya terhambat, dia sekali datang ke fisioterapis itu bayar 75 ribu, padahal supaya anaknya bisa kembali normal itu dibutuhkan datang ke fisioterapis berkali-kali. Bayangin, satu pasien aja udah berapa itu ya? Trus ada juga yang 100 ribu, tergantung dari penyakit dan penanganannya sih. Banyak kan gajinya? Buat alatnya sendiri pun gak banyak kok. Setau diana alat fisioterapi itu ada 10, gak sebanyak dan serinci kayak dokter gigi. Kalo dokter gigi sih, kursinya aja udah berapa ratus juta *katanya*. Kalo fisioterapi ranjang aja cukup lah hihihi.


Hmm... Kayaknya segitu aja deh yang bisa diana sharing nih. Kalo semisal kalian ada yang berminat bisa kok nyoba masuk fisioterapi sebagai pilihan lain dari kedokteran umum. Kalo juga ada yang ditanyakan, seperti biasa bisa kontak diana via aja boleh asal jangan via dari hati ke hati, bahaya nanti urusannya hahaha. Sekian dulu ya, daaaahhhhh
»»  READMORE...

Pantai Balangan, Keindahan Tersembunyi di Bali

Haloooo.......
Lama gak posting di blog ya saya, maklumin ya anak FK sibuk hahahaha -_- sibuk ngluyur keliling Bali sih iya -_-
Oke, untuk post kali ini aku tertarik buat bahas wisata yang ada di Bali ya hehehe. Kenapa??? Apakah blog ini udah beralih fungsi jadi blog wisata? Bukan bukan. Blog ini tetep akan random post. Tapi kenapa aku tertarik buat bikin post ini dikarenakan banyak temen-temen kalo berkunjung ke Bali itu berkunjungnya pasti ke Pantai Kuta, Beachwalk, Legian, dan sekitarnya -_- Aduh pak buuukk, bosen liat update path kalian yang ke sana melulu. Bukan bermaksud sombong karena aku sekarang jadi penduduk Bali lantas udah bosen ke Kuta, cuma aku mau berbagi kepada kalian tentang wisata Bali. Biar kalian juga tau kalau wisata Bali itu gak melulu Pantai Kuta, Beachwalk, Legian, Tanjung Benoa, Sanur, apa lagi ya? Oya, Tanah Lot, Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan beberapa list kunjungan wisata kalian ke Bali sewaktu study tour SMP ataupun SMA. Jangan disamakan ya hehehe.

Sebenarnya masih ada banyak pantai di Bali yang belum kalian kunjungi. Bahkan mungkin namanya saja kalian gak pernah denger. Samaan deh sama saya, awalnya gak pernah denger nama pantai ini. Namun, suatu ketika pacarku ngajak main ke pantai, dia merekomendasikan pantai ini untuk dikunjungi. Okeee, berangkaaaaaatttttt......

Jadi, aku berangkat sama pacarku, dan kedua temanku Sisil + Mul. Awalnya kita semua belum ada yang tau dimana letak Pantai Balangan ini. Pacarku cuma bilang kalo kata internet Pantai Balangan itu searah sama Dreamland. Oke, berarti perjalanan menuju Bukit Jimbaran dimulai.

Untungnya, sekarang petunjuk arah di daerah Bukit Jimbaran itu udah diperbarui. Kalau dulu di petunjuk arah itu Pantai Balangan sama Pantai Pandawa belum ditulis, sekarang udah ditulis. Alhamdulillah, pemerintah sadar pentingnya petunjuk arah bagi wisatawan ya hehehe :3 Ya akhirnya, kami jalan sesuai dengan petunjuk arah.

Oiya kalau kalian mau ke Pantai Balangan, kalian bisa pake Google Maps, kalo Google Maps kalian belum bisa mendeteksi pantai ini, cari aja GWK, letaknya Pantai Balangan deket sama GWK kok tenang aja. Selain deket sama GWK, kalau ke Pantai Balangan kalian juga bisa ke Pantai Pandawa, Dreamland, Pantai Padang-Padang, sama ke Pura Uluwatu. Aku baru taunya sih itu. Gak tau deh kalo masih ada wisata nyempil yang belum aku sebutin hehehe. Kalo buat kendaraan umum ke Pantai Balangan sendiri belum ada. Jadi usahakan kesana pakai kendaraan pribadi atau kalo mau boros ya pake taksi hahaha. Kalo kalian bawa bis hmm.... Kayaknya gak cukup buat masuk ke sana. Harus parkir lumayan jauh. Soalnya jalan menuju Pantai Balangan ini sempit dan bisa dibilang pantai ini masih perawan. Jalan ke pantainya aja bebatuan belum di aspal.




Pantai Balangan sendiri masih bisa dibilang cukup sepi. Cocok banget buat kalian yang mau santai-santai di sini. Oiya, kondisi pantai ini memang sedikit berbeda dengan yang kalian liat di images google. Kalo disana kan di tunjukin pantai nya belum ada rumah-rumah. Nah, balangan yang sekarang udah ada rumah-rumah di pinggir pantai. Rumah-rumah itu sebenernya jajaran cafe buat kalian yang pengen makan atau minum. Desain dari cafe-cafe itu dibuat sangat sederhana dari interior kayu, bikin kalian tambah merasakan seperti di alam bebas sesungguhnya. Pernah bayangin punya rumah yang desainnya total dari kayu di pinggir pantai? Ya kayak gitu dah gambarannya. Tapi tenang aja, bangunan-bangunan sederhana itu gak mengurangi nilai plus dari pantai ini kok.



Pantai-pantai di daerah selatan Pulau Bali ini memang terkenal punya ombak yang luar biasa besar. Semakin ke selatan biasanya semakin kencang. Otomatis, kalo kalian ke Pura Uluwatu yang letaknya paling ujung dari Pulau Bali, kalian bisa denger deburan ombak menabrak karang dengan sangaaaattttttt besar. Di Balangan ini gak sebesar di Pura Uluwatu, tapi tetep aja termasuk besar. Makanya jangan heran kalo banyak wisatawan yang asik berselancar disini. Buat yang mau berenang disini hati-hati pantai ini banyak batu, karang, dan rumput laut :3 Jadi tajem-tajem gimana gitu wkwkwk.




Over all, pantai ini masih termasuk tenang dibanding dengan Kuta yang udah dipenuhi orang-orang. Kalian bisa menikmati sunset dengan nyaman disini tanpa diganggu orang-orang lalu lalang. Kalian juga terbebas dari tawaran gelang, kepang, atau tato seperti di Kuta. Gak ada juga pedagang keliling lainnya karena kalian bisa mendapatkan makanan, minuman ataupun yang lain di rumah-rumah pinggir pantai yang memang dibangun untuk mencukupi kebutuhan kalian selama di pantai. Kalo kalian mau nginep di sekitar pantai ini, ada banyak banget hotel dan penginapan di sekitaran pantai ini. Harganya bervariasi dong hihihi. Banyak restoran juga yang menyuguhkan pemandangan Pantai Balangan dari atas. Kalian juga bisa main pasir putih disini karena pasir disini lembut dan putih bersih. Lautnya yang biru seperti langit menggelitik untuk kita jelajahi kerajaan apa yang ada di bawahnya. Aku aja yang gak bisa berenang, akhirnya tertarik belajar renang di sini ditambah belajar menyelam dikit-dikit hihihi. Apalagi ditambah deburan ombak yang datang ke hadapan kalian seakan menantang kalian untuk menaklukannya dengan papan surfing. Tidak ada biaya parkir kendaraan. Tidak akan mengeluarkan biaya apa-apa kecuali bensin untuk kendaraan kalian hihihi, kecuali juga kalo kalian tergelitik untuk menikmati suasana makan di cafe ketika sunset. Jadi tunggu apa lagi? Wisata di Bali nyaman, indah, dan murah. See you on there, guys :)
»»  READMORE...

Masuk PTN itu Gak Mudah, Nak

Teruntuk adik-adikku yang ingin masuk perguruan tinggi, dengarkan curhat ku yang pernah berada di posisi kalian

Halo para calon pejuang perguruan tinggi :) Bagaimana kabar kalian? Sudah tau ingin melanjutkan kemana setelah lulus SMA nanti? Sudah berjuang sekeras apapun kalian untuk mengejar cita-cita kalian?

Oke, aku disini tidak akan bicara banyak. Aku hanya ingin membagi kisahku selama berjuang untuk dapat menggapai Perguruan Tinggi Negeri :) dan mungkin juga aku akan membagi sedikit kisah teman-temanku. Mengapa? Karena kami semua memiliki segala kisah yang berbeda dan aku tidak berharap apa-apa kecuali hanya berharap agar kalian dapat memikirkan segala hal yang terbaik untuk kalian :)

Aku akan memulai ini dari kisahku.
Aku bukan anak yang rajin selama kelas 3. Aku masih aktif ikut organisasi dan ikut lomba, tapi seperti kebanyakan anak lainnya, aku sedikit lebih rajin belajar daripada di kelas satu maupun kelas dua. Memang benar sih, rangking ku di kelas jadi naik ketika aku di kelas 3.

Berbicara soal cita-cita, aku bercita-cita menjadi seorang dokter bedah tulang. Kalian tau sendiri kan, pasti banyak dari kalian atau teman-teman kalian yang bercita-cita ingin jadi dokter. Dokter itu udah masuk nya susah, belajarnya susah, keluarnya susah, saingannya banyak hahahaha.

Waktu SNMPTN, aku mendaftar di Universitas Gajah Mada dengan pilihan Pendidikan Dokter dan Pendidikan Dokter Gigi. Sambil menunggu pengumuman SNMPTN, aku juga mencoba di universitas swasta.

Aku pernah mencoba mendaftar di Universitas Kristen Maranatha Bandung. Waktu itu aku juga memilih Pendidikan Dokter dan Pendidikan Dokter Gigi. Tes yang diberikan waktu itu adalah TPA, bahasa indonesia, bahasa inggris. Kalaupun ada matematika itu gampang kok gak sesusah trigonometri hehehe. Tapi... Yang susah adalah tes biologi nya. Biologi yang benar-benar sangaaaattt mendalam dan luar biasa aku lupa semua hahaha. Kalo kalian mau disini, belajar biologinya yang bener ya, soalnya memang ini mendalam banget yang di teskan. Penjaganya killer banget lagi. Mirip kayak di kartun-kartun gitu, profesor dengan kacamata dan berkepala botak hehehe. Kalo buat Pendidikan Dokter Gigi waktu itu ada tes ketrampilan. Waktu itu disediakan sabun, cutter, penggaris dan alat-alat yang dibutuhkan. Kemudian ada juga kertas yang berisi panduan harus diapain sabun yang ada di depan kita itu. Waktu itu aku cuma disuruh motong sama bentuk sabun sesuai dengan petunjuk. Gak susah sih sebenernya, yang agak nyebelin itu motong sabun itu lho yang susah hahahaa. Coba aja kalo itu gabus, udah lancar aja lah aku motong hehehe.

Dan ketika pengumuman Maranatha itu ya aku gagal wkwkwk. Aku gak berkecil hati sih. Aku mencoba di swasta lainnya. Aku mendaftar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta via CBT atau tes komputer. Yang ini emang gila -_- Memang sih tes nya cepet, tapi mikirnya juga hmm gimana gitu ya hahaha. Kalian harus bisa menjawab begitu banyak soal rumit dengan waktu yang sedikit. Maaf sih aku lupa jumlah soal sama waktu nya berapa, soalnya aku gak keterima sih jadinya gak penting hihihi.

Akhirnya aku berpikir untuk tidak menjadi orang yang fanatik mengejar kedokteran. Aku memilih jurusan lain. Aku sempat mendaftar dan diterima di D3 Komunikasi IPB, S1 Teknik Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta, serta diterima di London School of Public Relations. Tapi gak ada yang aku ambil semua wkwkwk.

Aku adalah orang yang tidak terlalu bermimpi untuk dapat diterima melalui jalur SNMPTN. Soalnya aku tau nilaiku kelas 1 dan kelas 2 itu ancur untuk masuk kedokteran. Jangankan masuk kedokteran, masuk UGM aja mungkin cuma dipandang sebelah mata hahaha. Maka dari itu, setelah ujian nasional selesai, aku fokus belajar SBMPTN.

Oya perlu kalian ketahui, hidup diluar sangat keras teman-teman. Ketika kalian nanti ujian nasional, akan begitu banyak yang namanya kunci jawaban beredar. PENGALAMAN SAYA NIH YA, hampir di setiap ruangan di sekolahku membawa kunci jawaban. Tapi ya memang yang ketahuan hanya beberapa sih. Waktu itu, aku sempet nangis ngerasain ujian nasional yang begitu susah. Ingatlah, jamanku itu ujian nasional 20 paket yang standarnya udah disamain sama SBMPTN. Trus juga hasil dari Ujian Nasional akan diakumulasikan sebagai salah satu syarat lulus SNMPTN, ya walaupun tiap universitas memberikan kebijakan yang berbeda mengenai presentase hasil ujian nasional yang digunakan. Bener-bener susaaaah banget. Tapi aku tetep bertahan untuk tidak memakai kunci jawaban sama sekali.

Sekedar info untuk kunci jawaban. Kunci jawaban beredar dan di kotaku jujur seluruh sekolah di kotaku memakainya, tidak terkecuali beberapa orang terdekatku. Kunci jawaban beredar dengan begitu mudah. Ada yang satu kelas atau satu sekolah mengumpulkan iuran untuk membeli kunci jawaban yang KATANYA harganya gak murah. Kunci jawaban itu kemudian akan dikirimkan ke e-mail pembeli dan pembeli tinggal mencetaknya berulang kali dan dapat mencetaknya dalam berbagai macam ukuran. Aku sempat melihatnya. Aku pernah ditunjukkan oleh salah seorang. Kunci jawaban itu memang ada 20 paket. Memang tidak ada soal dan tidak ada keterangan mana kode 1 mana kode 2, namun ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan peserta ujian untuk menggunakan kunci jawaban itu secara benar.

Kunci jawaban itu jelas terdapat nomor dari nomor 1-50 dan jawabannya A/B/C/D/E. Kemudian di atas nya akan ada contoh beberapa soal. Misal seperti ini :
5. Fakta
15. Majas puisi
25. Kesimpulan berita

Jadi biasanya para peserta ketika mendapatkan soal, mereka akan mencocokan soal yang mereka dapat dengan kunci jawaban. Misal untuk kunci yang diatas, mereka akan melihat pada soal nomor 5, nomor 15, dan nomor 25. Jika ketiga soal itu memang mengenai fakta, majas puisi, dan kesimpulan berita maka kunci jawaban itu cocok dengan soal yang mereka dapat. Ya, memang beresiko, tapi sebagian besar dari mereka sukses mengerjakan soal ujian menggunakan kunci jawaban.

Pengumuman Ujian Nasional jelas begitu mencengangkan. Memang, mereka yang benar-benar memiliki otak super, mendapatkan hasil bagus. Ada juga beberapa dari mereka yang kita sangka akan mendapatkan nilai bagus, namun hasil ujian nasional mereka malah jelek. Begitu banyak teman-temanku, yang ketika try out selalu tidak pernah lulus, namun ketika ujian nasional mereka mendapatkan nilai 9, bahkan ada yang mendapatkan nilai 10 bulat. Begitu ironi, namun begitu kenyataannya.

Pengumuman SNMPTN, seperti yang sudah aku duga, aku tidak lulus. Aku santai. Aku memang tidak terlalu berharap akan masuk PTN melalui jalur undangan, karena nilai rapot ku yang begitu luar biasa mengenaskan hahaha. Maklum sih, aku terlalu 'gaib' di sekolah dikit-dikit rapat, maklum orang sibuk hahahaha :p becanda kok becanda. Aku juga bukan orang yang susah move on dari pengumuman SNMPTN. Aku bisa langsung bangun dan malah aku lebih bersemangat untuk mengejar dan lulus dalam SBMPTN. Hmm... Ya maksudnya move on disini sih, gak terlalu sedih karena gak keterima SNMPTN. Soalnya ada beberapa temenku yang terlalu kepikiran sehingga mereka jatuh sakit gara-gara gak keterima SNMPTN. Oya, dari pengumuman SNMPTN ini, aku bisa menyimpulkan beberapa hal :

  • Mempunyai banyak sertifikat tidak menjamin kita akan lulus SNMPTN walaupun itu sertifikat OSN atau juara olimpiade sekalipun.
  • Mendapatkan rangking paralel tidak menjamin kita akan lulus SNMPTN.
  • Tidak mempunyai sertifikat belum tentu kita tidak lulus SNMPTN.
  • Tidak pernah medapatkan rangking, belum tentu kita tidak lulus SNMPTN.
Iya teman-teman, SNMPTN itu bagaikan judi atau bagaikan doorprize yang kita tidak dapat menebak siapa yang akan beruntung. Begitu banyak teman-temanku yang pintar, yang selama hidupnya di SMA mengejar begitu banyak kejuaraan, namun mereka tidak lolos SNMPTN. Namun, temen-temenku yang tidak memiliki sertifikat bahkan hidupnya di SMA bagaikan 'hidup segan mati tak mau' mereka lulus SNMPTN bahkan ada beberapa yang mendapatkan bidik misi. Sampai sekarang memang belum ada yang mengenai sistematika penerimaan SNMPTN yang benar, teman-teman. Semuanya adalah misteri dari masing-masing universitas.

Membicarakan soal SBMPTN, karena di sekolah sudah tidak ada kegiatan, aku menghabiskan waktuku untuk belajar. Pagi, siang, sore, sampai panas kepalaku -_- Aku tidak lagi belajar materi, tapi aku belajar latihan soal SBMPTN. Aku mendaftar pada sebuah bimbel, mengikuti try out di bimbel juga try out online. Semua itu hanya untuk mengetahui seberapa kemampuanku, apalagi aku adalah salah satu anak yang mengejar program studi tinggi yaitu Pendidikan Dokter. Dalam hal ini nanti kalian akan mengenal yang namanya Passing Grade. Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai PG, karena kalau kalian bisa mendapatkan informasi itu dari internet maupun dari bimbel. Tapi teman-teman, sungguh sebenarnya PG itu menipu :) nanti akan aku jelaskan.

Di SBMPTN ini aku sudah tidak mengejar untuk masuk FK UGM. Karena, saat itu aku masih berpatokan pada PG, dan PG untuk Pendidikan Dokter UGM waktu itu sekitar 56 koma sekian persen. Sedangkan hasil try out selama ini belum pernah mencicipi angka 50 persen. Aku juga sudah tidak mengejar Pendidikan Dokter Undip serta UNS. Selama ini hasil try out mentok mencapai 42 persen. Aku sedikit memikirkan bagaimana kalau aku memilih di Udayana. Aku sudah tidak mengejar universitas yang ternama teman, tapi aku mengejar program studi yang aku tuju. Untuk apa aku masuk UGM tapi aku di program studi yang tidak sesuai dengan diriku. Jadi lebih baik aku mengejar program studi itu kalau perlu sampe swasta juga aku gak masalah.

Sebenarnya terjadi perdebatan ketika memilih program studi untuk SBMPTN maupun tes mandiri. Maklum lah, aku tidak ingin terjerumus ke lubang kekecewaan lagi hehehe. Setidaknya aku bisa lah membuktikan ke orang tua ku kalau aku bisa masuk ke PTN. Itu kan harapan setiap orang tua? :)) Apalagi lulusnya lewat SNMPTN apa SBMPTN, wuih tambah membanggakan orang tua kan? :))

Sempat terpikir aku ingin ambil program studi matematika, sempat juga ingin ambil komunikasi hahaha. Oh iya satu lagi, sempat juga ingin ambil teknik industri. Aku memilih matematika karena dari kecil aku sangat menguasai pelajaran ini. Aku mengambil komunikasi karena aku suka sekali menulis dan aku tertarik dengan dunia ini sejujurnya (karena aku dilarang ambil sastra, makanya milih ke komunikasi hahaha). Aku ambil teknik industri soalnya aku liat prospek ke depannya bakalan bagus. Labil sekali ya? Hihihi. Aku sudah di terima di Teknik Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta, D3 Komunikasi IPB, serta diterima di London School of Public Relations. Tapi kalian mau tau keputusan apa yang aku ambil?

Aku melepaskan begitu saja D3 Komunikasi IPB yang aku dapatkan melalui jalur seleksi rapot. Jadi sewaktu masa-masa SBM ini aku masih memegang Teknik Industri Atma Jaya dan LSPR.

Untuk SBMPTN, jelas aku tidak mau bunuh diri dengan mengisi pendidikan dokter semua di form pendaftaran. Aku gak gila. Bukannya aku putus asa dan menyerah, tapi aku berusaha realistis akan kemampuan ku dan aku hanya berusaha untuk membaca peluang yang bagus. Setidaknya aku harus mempunyai satu pegangan S1 PTN.

Aku sempat tertarik masuk Matematika ITB, Matematika ITS, Matematika Unair, Ilkom Unair, juga Fisioterapi Unud. Namun, setelah berpikir sangat panjang sampai stress, akhirnya keputusanku jatuh pada ini :



Ya, aku memilih PDU Unud, Ilmu Gizi Undip, dan PDG Unud. Tes nya di bali dong ya hahaha. Tapi jujur teman-teman, soal SBMPTN zaman ku jauuuuuuhhhhh lebih susah dibanding dengan try out-try out yang pernah aku jalani. Pada waktu itu aku minder. Aku tes di bali. Untuk TKD Saintek, dari 60 soal aku hanya menjawab 10 soal dan ya itu belum tentu betul semua. Mengenaskan kan? Aku melirik sebelah ku, dia menjawab sangaaaatttttttt banyaaaakkkk. Dan ketika tes selesai, aku tanya sama dia tentang pendapatnya mengerjakan soal SBMPTN. Dan dia bilang kalo soalnya susah -_____- Aku langsung down. Gimana enggak? Dia yang menjawab begitu banyak aja masih bisa bilang susah, apalagi aku yang cuma jawab 10 soal? Tapi aku mencoba untuk tetap tenang.

Tes kedua adalah TKPA. Ya, aku berharap bisa maksimal di bagian TPA dan matematika dasar. Soalnya selama try out kunciku hanya di dua itu. Jika dua itu aku bisa mengerjakan dengan lancar, aku benar-benar optimis untuk SBMPTN kali ini. Tapi ternyata.... tet tottttt....... Seperti yang aku bilang, semuanya susaaaahhhhh sekaliiii. Benar-benar di luar bayanganku. Tapi, aku berusaha untuk mengerjakan 65 soal dari 90 soal, sehingga total aku mengerjakan 75 soal. Itu pun aku keluar ruangan tes dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Oya taktik yang aku pakai, aku mengerjakan soal yang benar-benar aku bisa. Kalaupun ada soal yang aku masih ragu jawabannya, aku tidak menjawabnya, soalnya sangat beresiko. Tapi sepertinya aku gagal menerapkan itu di SBMPTN -_-

Malam setelah tes teman-teman, akan begitu banyak kunci jawaban SBMPTN yang muncul di internet. Kunci itu bukan dari panitia SBMPTN, tapi itu dari bimbel yang berusaha menjawab soal-soal SBMPTN. Memang sih soal SBMPTN boleh dibawa pulang, gak heran kalo bimbel tau soal-soal SBMPTN yang tadi pagi diujikan. Aku juga ikutan mengecek jawaban ku di sana. Ya takut sih sebenernya, tapi kalo gak gitu... Aku penasaran hiks. Akhirnya dengan segenap hati aku membuka dan mencari kode soalku. Dan kalian tau apa teman-teman? Dari 10 soal Saintek yang aku kerjakan, aku salah dua. Dan dari 65 soal TKPA yang aku kerjakan, begitu banyak salahnya huaaaaaaa..... Jujur, aku udah nangis, patah semangat. Dipikiranku aku seperti udah gak ada harapan untuk masuk melalui jalur SBMPTN. Aku gak cerita ke orang tua, karena aku takut mengecewakan mereka.

Tapi, pacarku gak pernah berhenti mendukungku. Dia selalu memberikanku 'wejangan' salah satunya mengajakku untuk bersedekah di panti asuhan. Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya, kata orang doa anak-anak panti itu di dengar. KATANYA :) Kata orang jika kita bersedekah, maka kita akan mendapatkan rejeki yang lebih banyak nantinya. Tapi tetap saja, harus dengan hati yang ikhlas.

Aku terus berdoa berharap yang terbaik. Seenggaknya perjuanganku buat tes di bali gak sia-sia. Udah tes jauh-jauh, gak lolos lagi, sakit banget kan ya? Huhuhu...

Pengumuman SBMPTN itu bagaikan momok sendiri saat itu. Pengumuman SBMPTN 2014 dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2014 pukul 17.00 WIB.

Seperti biasa, akan begitu banyak mirror yang beredar. Nah, yang perlu diwaspadai adalah adanya mirror hoax yang katanya menampilkan hasil SBMPTN. Mirror hoax itu biasanya beredar sebelum jam 17.00. Dan kalau kalian masukin nomor peserta kalian, kalian jelas tidak lulus. Tips nya pakai mirror yang terpercaya yang memang bekerja sama dengan pihak panitia SBMPTN.

Menunggu jam 5 sore itu rasanya udah kayak seabad. Tapi tiba-tiba aku liat di Recent Update BBM, sahabatku bikin Personal Message: Alhamdulillah Unair 2014. Aku langsung kepo. Kok dia udah tau dia masuk unair. Padahal itu masih setengah 5 belum jam 5. Aku nggak percaya, tapi dia bilang kalau dia liat langsung di website resmi SBMPTN. Akhirnya aku coba. dengan tangan yang berdebar-debar, aku memasukkan nomor tesku dan JENG... JENG...



ALHAMDULILLAH :)) Rasanya seperti mimpi. Dari 700an ribu peserta, aku termasuk 160an ribu peserta yang lolos SBMPTN. Dengan soal yang begitu susah, aku masih tetap gak percaya aku bisa lolos. Langsung sujud syukur, langsung nangis juga saking bahagianya hihihi. Memang sih, aku tidak diterima di Pendidikan Dokter, tapi bisa lolos SBMPTN aja udah bener-bener bersyukur :))

Tapi, dibalik rasa senangku, tentu saja aku tetep sedih soalnya banyak temen-temenku yang gak lulus. Aku yang tadinya seneng langsung gak jadi seneng gara-gara mereka semua down. Kalian nanti akan merasakan sendiri jika ada di posisi ini :') Rasanya sungguh gak enak. Aku bingung harus bagaimana. Mau menghibur mereka tapi akunya malah dicuekin, kalo aku nyuekin dikira gak perhatian. Ya, serba repot disaat-saat seperti itu.

Karena aku udah memenuhi targetku buat megang satu kursi di PTN, jadi aku menjadi sedikit tenang. Berbeda dengan teman-temanku yang masih sibuk tes mandiri ke sana dan ke sini. Aku sendiri juga udah gak peduli dengan tes UM UGM yang kemaren aku ikuti. Mau masuk atau gak ya udah biarin aja hihihi :3

Kemudian...
Hasrat untuk masuk ke FK itu muncul kembali. Memang sih Gizi yang aku dapet itu juga termasuk FK, tapi aku tertarik buat nyoba lagi.
Aku mencari-cari info mengenai UMBPTN. Aku gak mau mengusik teman-temanku yang sibuk daftar mandiri jadi aku mending daftar UMBPTN. Kenapa begitu? Karena UNUD tahun ini masuk di daftar salah satu universitas di UMBPTN wkwkwkwk. Masih ada ngejar unud ya -_- Ya, namanya juga perjuangan ya :))

Aku belajar dan berdoa lagi. Kali ini belajar lebih giat, karena aku tau masuk Pendidikan Dokter benar-benar gak mudah. Tapi untuk pilihan prodi di UMBPTN ini aku memang gak masang strategi. Dokter semua yang aku isi wkwkwk. Soalnya aku gak peduli juga sih. Kalaupun aku gak lulus kan yang penting aku udah dapet satu PTN hehehe. Mau tau pilihanku saat itu?


Yang ini aku udah gak gila lagi buat ambil tes di bali hehehe. Di solo aja cukup deh. Itu pilihan dua terbawah itu agak ngawur sih hahaha. Ya gimana lagi? Daripada gak diisi, yaudah isi aja Fisioterapi sama Psikolog hahaha -_-

Oya, ketika akan mengikuti UMBPTN ini aku baru tau bahwa ikut UMBPTN ini lebih keras perjuangannya. Kenapa? Karena aku baru tau bahwa calo-calo akan beredar sangat banyak disini. Calo apa sih? Itu lho... calo yang jual kursi.

Jadi begini... Aku diceritain temenku urusan itu. Temenku itu punya beberapa kenalan yang bisa masukin dia ke PTN dengan mudah. Masuknya tentu aja pake duit. Seingetku kemarin, kalau mau masuk ke univ A  itu kalian bayar sekitar 30-40an juta. Itu hanya masuknya aja, belum termasuk biaya kuliah dll. Trus juga ada juga yang katanya masuk FK univ B dengan bayar 800juta. Ada juga yang FK univ C bayar 300an juta. Kalau kata temenku daerah Jawa Tengah itu lebih murah daripada di Jawa Timur. Di daerah Jawa Tengah biasanya 10-15an juta katanya. Dia sendiri yang bilang ke aku. Aku aja dengerin ceritanya sampe melongo. Kok bisa sampe segitunya.

Cara masuk PTN melalui calo itu biasanya terjadi ketika ujian mandiri. Jadi, ada dua jenis cara masuk PTN melalui calo. Ada yang pake tes ada yang gak pake tes. Kalau pake tes pun, mau berapapun hasil yang di dapatkan nanti bakalan tetep lolos. Tes itu cuma buat formalitas aja. Kalau gak mau pake tes, ya langsung masuk, cuma jelas tarif nya lebih mahal.

Temenku itu sempet nawarin aku calo buat FK Unud coba hahaha -_- Gila aja hahaha.

Membicarakan masalah calo, aku jadi kepikiran mengenai UMBPTN. Untuk beberapa universitas, UMBPTN tingkatnya sama dengan jalur mandiri. Nah, apakah di UMBPTN juga akan ada calo. Aku tanya hal itu ke temenku. Dan kalian mau tebak jawaban dia gimana?

X : Sekarang coba kamu pikir, Udayana sama UNS apa ada tes mandiri lain selain UMBPTN?

Aku berpikir benar juga. Jalur masuk ke Udayana sama UNS itu cuma SNMPTN, SBMPTN, kemudian melalui UMBPTN. Gak ada jalur masuk lain atau tes mandiri lain seperti universitas lainnya. Jadi... apakah?

X: Jelas bisa lah. Sekarang buat apa calo itu nawarin Unud sama UNS kalau ternyata gak bisa ditembus? Berarti kesimpulannya, UMBPTN itu masih bisa dimanipulasi sama calo.

ASTAGA!!! -_- Jawaban itu benar-benar gak lucu. Demi apapun, UMBPTN yang aku kira sistemnya seperti SBMPTN ternyata hasilnya masih bisa dibeli dengan uang. Aku sampe pusing sendiri mikirin itu. Apalagi prodi yang mau aku ambil itu FK yang dari dulu terkenal siapapun mau bayar berapapun biar masuk sana. Yang sedikit gak bisa aku terima disini adalah ketika aku berjuang keras tetapi perjuangan kerasku dikalahkan dengan uang. Itu rasanya..........

Sudahlah, aku hanya bisa tawakal dan pasrah saja mengenai UMBPTN nanti. Yang penting sekarang yang aku butuhin cuma berjuang.

Soal UMBPTN itu jumlahnya memang gak bisa ditebak. Tergantung dari panitianya mau bikin jumlah soalnya berapa. Soal-soalnya juga lebih ke logika, lebih ke IPA Terpadu. Cari aja sendiri contoh-contoh soal IPA Terpadu kayak gimana wkwkwk. UMBPTN lebih condong ke sana materi yang keluar.

Untuk pengumuman, aku udah gak terlalu heboh kayak waktu SBMPTN. Karena aku tau disini apapun bisa terjadi. Mau kerja keras apa gak, tidak bisa menentukan lulus atau tidak. Tau sendiri lah gara-gara calo sialan itu hehehe. Tapi ketika aku membuka pengumuman..........

ALHAMDULILLAH aku gagal lagi jadi bu dokter :)) Tapi aku lolos di pilihan ke-5 yaitu S1 Fisioterapi Udayana.

Itu tadi sedikit cerita perjuangan saya selama kelas tiga. Eh gak sedikit sih ya banyak juga hahaha. Aku disini bukan berniat apa-apa, cuma mau sharing sama kalian kalo perjuangan di kelas tiga itu cukup berat. Perjuangan masuk PTN itu apalagi, menyebalkan sekali kan yang oknum-oknum curang itu. :)
Semoga pengalaman itu bisa menjadi pelajaran dari kalian, ambil baiknya jangan buruknya ya. Jangan ikut-ikutan yang buruk karena nanti bisa berdampak jelek sama kalian percayalah :) 

Semangat untuk kalian para calon maba PTN Indonesia ! Terus semangat dalam mengejar mimpi ya :)

»»  READMORE...